| Nyepi, Umat Hindu Mataram Gelar Perang Api |
|
MATARAM, Rabu, 25 Maret 2009 KOMPAS — Umat Hindu di Kota Mataram, Nusa Tenggara Barat (NTB), Rabu petang, menggelar ritual "Perang Api" sebagai satu rangkaian menyambut Hari Raya Nyepi Tahun Baru Saka 1931.
Ritual "Perang Api" yang merupakan tradisi umat Hindu di Mataram sejak 1838 tersebut dilaksanakan di Jalan Selaparang, Cakranegara, yang merupakan lokasi peperangan antara Kerajaan Singosari dengan Kerajaan Karang Asem. Kegiatan ritual itu melibatkan sekitar 200 ratus warga dari dua Banjar (lingkungan) yang ada di Kelurahan Cakranegara Timur, yaitu Banjar Negara Sakah dengan Banjar Sweta. Warga dari masing-masing Banjar saling menyerang dengan menggunakan api yang disulut pada bobok (daun kelapa yang sudah kering yang sudah diikat membentuk sapu). Sebelum dilakukannya aksi saling serang, para tokoh masyarakat terlebih dahulu memeriksa "bobok" yang akan digunakan oleh warga untuk menyerang warga lainnya. Proses saling serang terjadi setelah para tokoh masyarakat dari masing-masing banjar sudah sepakat untuk memulai "peperangan". Menurut Lurah Cakranegara Timur, Nyoman Wisnu, "Perang Api" bukan sekadar bentuk peringatan menyambut Hari Raya Nyepi, tetapi memiliki makna yang lebih dalam yaitu untuk membersihkan bumi dari segala malapetaka yang terjadi. "Dulu awalnya ada salah seorang warga kami yang mendapat bisikan oleh Hyang Kuasa untuk membakar bobok (oboh-oboh) di pekarangan masing-masing dengan tujuan menghilangkan segala macam musibah yang disebabkan mahluk jahat atau yang disebut dengan ’kala’. Setelah itu, mereka bertemu di jalan ini untuk saling menyerang" katanya. Saling serang dengan api menggambarkan pembakaran hawa nafsu buruk yang ada dalam diri manusia agar benar-benar suci sebelum memulai acara Tapa Brata Penyepian. Dia mengatakan, dua hari setelah pelaksanaan Tapa Brata Penyepian, umat Hindu melaksanakan "Lembak Geni" untuk mempererat rasa persatuan sesama manusia. "Kita saling maaf-memaafkan dua hari setelah pelaksanaan ’Perang Api’ agar tidak ada rasa dendam antarsesama umat manusia," ujarnya. |








